Sungguh aneh hari ini, ceria ku langsung lenyap entah kemana ! oh day ,,
rasanya lelah juga, walaupun saat ini aku sedang bersandar di bahu seseorang dan merasa sedikit kenyamanan saat bersamanya.
" kenapa dari tadi hela napas terus? "
" hihihi, lagi bad day oppa, gara-gara tadi tuh ada orang aneh yang muncul tiba-tiba "
" suruh siapa , aku ga boleh nemenin ! "
" iya lagi mau jalan sendiri tadi "
" terus sekarang lagi pingin di temenin gitu jadi kesini ? aku kaya mainan banget ya disaat kamu butuh aku ada, disaat enggak ya enggak ck. ck. ck bener-bener cewek egois "
" hemm emang egois kan tuh tau ! terus kenapa masih nempel sama aku ? kenapa engga pergi aja sana ? aku juga risih kalau ada oppa, bergantung jadi enggak mandiri "
" kamunya juga enggak ngejauhkan , terus kenapa aku harus menjauh ? kalau aku nyaman seperti ini "
aku tidak menjawab perkataannya karena memang itu kenyataannya, aku malah memejamkan mata dan istirahat sejenak dalam peluknya, samapi dering ponsel di tanganku membuat aku terbangun, oh pasti si papa " pikirku
" jam berapa sekarang oppa ? " berpikir mungkin sudah lewat jam malam ku untuk pulang ke rumah, tapi tidak ada yang menjawabku, dan begitu aku berpaling pada sosok yang ternyata juga terlelap dalam tidurnya.
" hemmm, malah ikut-ikutan tidur "
saat melihat handphone di tanganku , nomor itu bukan nomor papa, nomor baru yang tidak aku kenal dan ini baru pukul 20:00 belum jam malamku sehingga aku yakin itu bukan orang rumah yang menelpon.
" ya , halo "
" hey, yuri ! apakah saya menganggu ? sudah pulang kah kerumah ?"
oh, this voice -_- , orang yang merusak suasana hati hari ini , tapi mengapa dia tau nomor ini ? kapan aku ngasihnya ? engga pernah ! terus darimana
" hey, ko tidak di jawab ? "
" yang seharusnya nanya bukannya saya ya? maaf dapet nomor ini dari mana ? "
" hanya mencuri sedikit informasi saat sebelum menyerahkan ponsel setelah terpinjam oleh nenek-nenek "
oiaa baru inget , dia yang ngembaliin -_- menyebalkan
" terus ? untuk apa kamu punya nomor saya ? "
" kan saya sudah bilang dari awal ingin mengenal kamu "
" apakah anda seorang psikopat ? tadi pagi anda mengikuti saya ? sekarang anda menelpon saya ? "
" apakah salah jika saya hanya ingin mengenal kamu ? "
" tidak, hanya saja ini kejadian yang jarang orang lain rasakan , dan anda memang orang yang aneh "
"hemmmm, yang tlp siapa sih , sampai harus dengan nada tinggi gitu ? " ucap seseorang yang langsung memeluk ku
" maaf buat bangun oppa, bukan siapa-siapa oppa !"
" apakah saya menganggu acara anda ? "
oppa mengambil ponsel ku dan langsung berlalu membawanya pergiselalu seperti itu , sikap so kesatrianya mulai lagi, padahal baru bangun tidur . :)
" nih, udah selesai enggak akan ganggu lagi dia " ucapnya
tapi ada ekspresi lain diwajahnya yang aku paham itu menyatakan bahwa oppa jengkel, marah, dan ekspresi lain yang tidak bisa aku tebak
" iya makasih oppa "
" nomornya udah aku blokir ko, udah jam pulang tuh, aku anterin ya ! "
" enggak usah rumah aku kan deket "
" jauh , pokoknya aku anterin "
"deket ko dari dramaga ke rumah tuh deket , jauh apanya ! jauhan juga dari tempat kerja aku kerumah kali oppa "
"apa salahnya sih, aku nganterin kamu kaya waktu smk dulu "
"enggak salah, tapi aku lagi pingin pulang sendiri "
" adeh, klo udah bilang gitu sih mau dipaksa pun akan tetap pergi sendiri, yaudah hati-hati ya :) "
" iya oppa jelek, bawel, cerewet "
aku harus mulai terbiasa dengan sikap posesifnya dia, walaupun kita bukan siapa-siapa , tapi dia enggak berubah sedikitpun dari sejak smk aku mengenalnya.
berbeda dengan seseorang yang aku sebut oppa juga, sangat berbeda sikapnya. namun terkadang mirip hahaha aku tak mengerti mengapa aku lebih menyukai berada bersama teman smk ku ini.
tapi terkadang dia bahkan lebih dari seorang pacar, dan karena itulah sampai saat ini aku merasa belum membutuhkan seorang pacar, jika orang yang ada disisiku pun terlalu memperhatikanku.
tapi aku juga penasaran apa yang orang aneh itu bicarakan dengan oppa, sampai membuat oppa berekspresi seperti itu, yah ekspresi yang belum pernah aku lihat.
0 komentar:
Posting Komentar